Hujan, tepat jam pulang kantor, adalah waktu yang sangat salah untuk nekat pulang. Karena pasti akan terjebak macet di perjalanan di ruas jalan Jakarta yang padat. Sampai muncul berbagai istilah untuk menggambarkan bagaimana kondisi lalu lintas pada waktu-waktu tersebut, antara lain: Parkir Akbar, Matot untuk keadaan Macet Total; Pamer Paha adalah akronim untuk Padat Merayap Tanpa Harapan, atau Pamer Paha di ranjang yang artinya: Padat Merayap dalam antrian panjang.... hehehe.. kreatif banget.
Black Berry dan Radio menjadi teman perjalanan yang lumayan menghibur dalam keadaan seperti di atas, asal jangan low bat dan kebelet pipis.. hihihi.. itu namanya sengsara tak berujung.
Bosen bbman ada satu lagi yang lumayan menghibur, mengamati keadaan sekeliling.. memperhatikan para pejuang kehidupan yang sejak pagi telah berlomba antri memnuhi ruas-ruas jalan Jakarta mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian yang tak pernah didapat :-( Mereka adalah pengendara mobil, pengendara motor, Metromini dan keneknya....
Dari semua pejuang yang paling menyebalkan adalah kenek Metromini atau Kopaja. Kalau Supirnya sih emang udah terkenal nyebelin kan. Sedangkan si Kenek di tengah2 kemacetan biasanya maksa nyari jalan buat metromininya, lalu dia akan ketok-ketok kaca mobil kita sambil kasih-kasih kode pake tangannya supaya kita maju, biarpun cuma setengah centi... Heran deh, padahal udah tau depannya juga udah rapet banget, dan nggak akan ada pengaruh juga kalau kita maju mengingat badan metromini yang besar dan biasanya butut itu sulit untuk menyelip di antara mobil-mobil yang berderet rapat. Kalau sudah demikian saya paling senang bikin si kenek kesal juga hahaha.. tinggal geleng-geleng kepala sambil nunjuk-nunjuk ke depan maksudnya kasih tau bahwa ga mungkin maju, lalu pura-pura sibuk bbman... hehehe.. puas deh rasanya. Belum cukup gitu, kalo ada ruang sedikit saja, langsung sang kenek pasang badan di depan mobil kita dan membiarkan sang Metromoni memotong jalur seenak perutnya sambil menekan-nekan pedal gas mengeluarkan suara menggerung-gerung, seolah raja jalanan. Mobil-mobil lain terpaksa memberi jalan daripada kesenggol body butut metromini, bisa lecet tak terobati tuhh..
Lain lagi dengan pengendara motor yang sekarang jumlahnya seperti pasukan semut. Karena badannya yang kecil mereka seperti butir-butir pasir dalam Jambangan Gelas berisi bongkahan batu, mudah menyusup mengisi celah dan ruang kosong di antara batu-batu tersebut. Tak perduli apakah mengganggu pengguna jalan lain, menyenggol kaca spion mobil lain sampai sengkleh.. Jangankan berhenti minta maaf, langsung ngeloyor atau paling melambaikan tangan... Yang terpikir hanya kepentingan diri sendiri.
Sepertinya itulah cermin sikap dan perilaku bangsa ini, egois, selfish, tidak perduli..
Semoga Pemimpin yang baru nanti lebih peka dan bisa membawa bangsa ini kembali kepada sikap-sikap luhur yang sejak dulu telah diajarkan nenek moyang kita dan sekarang dilupakan... Selalu berharap untuk yang lebih baik...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar