Jakarta, 4 Februari 2009.
Siang ini saya harus menghadap polres Bekasi bersama salah seorang teman mantan Dekan salah satu fakultas di Universitas tempat saya bekerja. Lho ada masalah apa ya? Ternyata Polres Bekasi telah menangkap seseorang yang berprofesi sebagai pembuat Ijazah dan Transkrip Palsu, dan salah satunya ada Ijazah keluaran Universitas kami. Kepala saya langsung cenut-cenut..., memang sih kami hanya sebagai saksi, dan teman saya itu dipanggil karena tanda tangan yang tertera di Ijazah Palsu itu atas namanya. Tapi kami belum melihat seperti apa Ijazah Palsu tersebut, wajarlah kalau kami merasa khawatir. Biasa, urusan sama Polisi di negara kita itu belum memberikan jaminan rasa aman bagi masyarakat. Kalau bisa sih sebaiknya sejauh mungkin kita berurusan sama polisi, atau aparat hukum di negeri ini. Selain itu kekhawatiran saya lebih kepada integritas PT kami, walaupun dari data yang kami peroleh tentang nama pengguna Ijazah memang tidak ada dalam database mahasiswa di PT kami. Jadi pagi-pagi saya sudah menyiapkan semua dokumen, contoh Ijazah dan transkrip asli yang kami terbitkan pada bulan dan tahun yang sama dengan yang tercantum dalam Ijazah Palsu tersebut, juga kutipan SK pemberhentian sebagai Dekan dari teman saya tadi. Sementara teman saya sudah menghubungi temannya yang polisi juga entah dari kesatuan mana buat jaga-jaga membantu kami kalau terjadi hal-hal yang kurang menguntungkan.
Tepat pukul 12.00, kami tiba di tempat tujuan, 1 jam lebih awal dari waktu yg ditentukan. Jadi kami masih punya waktu untuk makan siang dan sholat. Tepat jam 13.00 kami masuk ke ruang Bareskrim, menemui Aiptu Bambang SP, SH. Nah, baru deh kami bisa liat bentuk Ijazah dan Transkrip Palsu tersebut. Rupanya pembuatan Ijazah dan Transkrip Palsu memanfaatkan Teknologi Multimedia yang sekarang sudah sangat canggih, menggunakan scanner dan software multimedia, seperti photshop/corel dll. Hebat banget orang Indonesia ya, pinter-pinter tapi keblinger. Ketahuan Palsunya gimana? Blanko Ijazah masih menggunakan Blanko lama, logo lama (sekarang kami menggunakan logo baru), bahkan ada stempel embosenya segala. Kemudian tanggal pengeluaran tidak sesuai dengan tanggal pengeluaran yg sebenarnya. Dekan yang menandatangani adalah Dekan yang sudah tidak menjabat pada tanggal tersebut. Tanda Tangan Rektor jelas-jelas berbeda dengan aselinya. Ternyata selain Ijazah dari Universitas lain juga banyak yg dipalsu, bahkan Ijazah SMU yang dikeluarkan Diknas pun dipalsu, termasuk Ijazah Paket C.... masyaallah... Hebat banget tuh orang. Biayanya? 1 lembar Ijazah dan 1 lembar transkrip hanya Rp. 400.000,-. Hehehe... ga usah repot-repot dan mahal-mahal sekolah.... hanya dengan Rp400.000,- sudah jadi Sarjana.
Kenapa Fenomena ini sering terjadi ya? Terus terang ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan Polisi urusan Ijazah juga. Awalnya kantor saya menerima telepon mencari tahu tentang seseorang yang katanya lulusan Universitas kami tahun 90 an. Tidak mudah mencari data lulusan /alumni tahun segitu, karena pada waktu itu kami belum menggunakan Sistem Informasi yang On Line seperti sekarang, apalagi kalau tidak diketahui Nomor Induknya dengan jelas. Hari berikutnya datang seseorang yang mengaku dari salah satu partai yang sedang berlomba dalam pemilu mendatang menanyakan data orang yang sama. Ternyata ini masalah pencalonan Anggota Legislatif (Caleg), yang mana orang tersebut dicurigai memalsukan gelar akademik S1nya. Terpaksa kami mencari hard copy data-data lama yang masih tersimpan. Masalahnya data tersebut sudah tidak terlalu lengkap, kami sudah melakukan pemusnahan beberapa tahun lalu bagi data-data yang usianya sudah sangat tua. Untung masih ada 1 buku tanda terima ijazah yang memuat lulusan-lulusan tahun yang disebutkan tadi. Ternyata data orang yang dimaksud tidak dapat ditemukan. Saya mencoba menghubungi alumni-alumni seangkatan dengan orang yang dimaksud, untuk mengetahui apakah memang orang tersebut pernah menjadi mahasiswa di kampus ini. Ternyata memang ada nama tersebut, dan pada waktu itu masih ada sistem Ujian Negara. Kemungkinan orang tersebut belum lulus Ujian Negara sehingga Ijazah yang diterbitkan oleh Kopertis (Kordinator Perguruan tinggi Swasta) atas namanya tidak ada.
Esoknya datang seorang bapak-bapak yang mengaku sebagai orang tua dari 'caleg' tersebut membawa berkas Kutipan Surat Keterangan Rektor yang menjelaskan bahwa ybs sudah dinyatakan lulus sebagai Sarjana S1 lokal, dan masih harus menyelesaikan Ujian Negara sebagai syarat memperoleh Ijazah S1. Nah, inilah rupanya permasalahannya. Ujian negara memang tidak pernah ditempuh, sehingga ijazah memang tidak dimiliki.
Urusan ternyata masih panjang, karena seseorang mengadukan 'caleg' kita ini ke polisi dengan tuduhan memalsukan gelar Sarjana. Datang lagi panggilan Polisi untuk menjelaskan duduk perkaranya....., haduuuhhh ribet....
Ijazah di negeri ini rupanya sangat berperan dalam menentukan karir dan jalan hidup seseorang. Itu sebabnya banyak orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh selembar kertas yang dapat menjadi passport ke dunia yang lebih menjanjikan. Lha kalau Ijazahnya saja sudah diperoleh dengan cara-cara tidak jujur, ya pantaslah kalau negeri ini penuh dengan masalah-masalah yang sebenarnya bersumber pada kelemahan akhlak pemimpin, rakyat dan semua penghuninya... Walahualam.
Tapi tidak dapat dipungkiri, karena peran ijazah itu juga, maka program perkuliahan kelas karyawan kami sangat diminati. Eits.., jangan suudzon dulu..., walaupun demikian kami menjalankan praktek perkuliahan dengan serius, tidak bisa main-main. Kami melakukan pembenahan besar-besaran, mendisiplinkan dosen-dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran, karena sekali kami lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Selamat berjuang.
Jumat, 06 Februari 2009
Senin, 02 Februari 2009
2 February 2009
Jakarta, 3 February 2009
Kemarin, tanggal 2 February 2009, tepat 20 tahun usia pernikahanku dengan suami tercinta. 20 tahun??? Time flies.... Kami berdua emang orang-orang yang ga suka ribet..., or terlalu cuek. Apa yang kami lakukan untuk celebrating our two decades marriage? Ga ada! Pagi-pagi udah ribet siap-siap berangkat mau memperpanjang STNK mobilku, yang 4 tahun lalu kubeli sendiri dengan mengangsur :-) dan kebetulan keluar tepat tanggal 2 February 2005, jadi dianggep aja sebagai hadiah ulang tahun perkawinan kami ke 16... he..he.. Seperti biasa kalo urusan perpanjang STNK aku selalu minta bantuan suami, jadilah kami berdua pagi-pagi sekalian anter buah hati semata wayang kami kuliah, langsung ke POLDA. Sejak Jum'at aku sudah halo-halo ke orang kantor that I will celebrate my 20th wedding anniversary on Monday, jadi yang heboh kirim sms selamat justru mereka... tapi untungnya mereka jadi maklum klo aku bolos hari itu ha..ha..ha..
Harusnya pagi itu bisa dibuat romantis, apalagi suasananya mendukung banget, hujan terus-menerus sejak malam, tapi yang ada malah kita khawatir ketemu banjir di jalan. Belum lagi hape suamiku yang berdering-dering, karena ada masalah dengan proyeknya. Aku jadi kebat-kebit, jangan-jangan dia harus mendadak ngecek ke proyek yang jauh di ujung Utara Jakarta, di pantai Marunda. Untungnya dia bisa ngatur segalanya lewat telepon, jadi kita bisa sama-sama terus seharian. Thanks to technology. Tapi tetep..., proyek tidak bisa dilewatkan, maklum mata pencaharian :-). Setelah selesai urusan STNK, kami harus menemui calon klien yang kebetulan temenku SMA. Dia dan suaminya bertugas di Afrika dan rumahnya yang di Jakarta mau direnovasi. Nah, jadilah kami menemui dia, yang cuma punya waktu pendek di Jakarta buat bicarain kemungkinan-kemungkinan perluasan ruangan dan perbaikan genteng, sambil cerita-cerita pengalamannya di Kenya yang seru banget.
Alhasil, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, dan suamiku ingin jemput anakku yang selesai kuliahnya jam 13.00, so kita bisa sama-sama bertiga having lunch sambil ngerayain wedding anniversary.... Duh, ngerayain wedding anniversary kok ga serius ya... Akhirnya jadi juga kita makan di Sky Dinning Plaza Semanggi, itu lho di terace cafe lantai 9 Plaza Semanggi... enak tempatnya outdoor sambil liat-liat pemandangan Jakarta dengan cuaca yang mendung-mendung dingin, seperti di Eropa... ha..ha.., lumayan romantislah. Kita makan di Radja Ketjil, restoran yang menyediakan makanan cina peranakan, mmm yummy...
Habis makan anakku mampir beli stationary di Gramedia, dan aku nemu bukunya Budiman Hakim, seorang copy writer yang sebelumnya ga pernah kukenal (maklum, aku kan bukan org periklanan) yang menulis tentang hal-hal sepele di sekitarnya, dan ternyata tulisannya seru, enak dibaca dan bikin aku senyum-senyum sendiri. Buku itu juga yang menginspirasiku buat nginget-nginget segala kejadian yang kualami yang selama ini luput dari perhatianku... Tiba-tiba aku jadi ingin menulis lagi di blog ini. Mungkin cuma ha-hal sepele, tapi tiba-tiba di kepala kok jadi muncul jadi ide-ide yang kalo ditulis dan dibaca lagi bisa jadi penghibur hati.
Malam itu, aku bersyukur bahwa aku telah melewatkan 1 hari yang berharga bersama suami dan buah hatiku tercinta, merayakan kebersamaan kami yang telah 20 tahun ditambah masa pacaran 6 tahun.... Tidak ada pesta-pesta, tapi terasa sangat pribadi. Thanks to my husband for being there for more than two decades in good and bad time. Much Luv.
Kemarin, tanggal 2 February 2009, tepat 20 tahun usia pernikahanku dengan suami tercinta. 20 tahun??? Time flies.... Kami berdua emang orang-orang yang ga suka ribet..., or terlalu cuek. Apa yang kami lakukan untuk celebrating our two decades marriage? Ga ada! Pagi-pagi udah ribet siap-siap berangkat mau memperpanjang STNK mobilku, yang 4 tahun lalu kubeli sendiri dengan mengangsur :-) dan kebetulan keluar tepat tanggal 2 February 2005, jadi dianggep aja sebagai hadiah ulang tahun perkawinan kami ke 16... he..he.. Seperti biasa kalo urusan perpanjang STNK aku selalu minta bantuan suami, jadilah kami berdua pagi-pagi sekalian anter buah hati semata wayang kami kuliah, langsung ke POLDA. Sejak Jum'at aku sudah halo-halo ke orang kantor that I will celebrate my 20th wedding anniversary on Monday, jadi yang heboh kirim sms selamat justru mereka... tapi untungnya mereka jadi maklum klo aku bolos hari itu ha..ha..ha..
Harusnya pagi itu bisa dibuat romantis, apalagi suasananya mendukung banget, hujan terus-menerus sejak malam, tapi yang ada malah kita khawatir ketemu banjir di jalan. Belum lagi hape suamiku yang berdering-dering, karena ada masalah dengan proyeknya. Aku jadi kebat-kebit, jangan-jangan dia harus mendadak ngecek ke proyek yang jauh di ujung Utara Jakarta, di pantai Marunda. Untungnya dia bisa ngatur segalanya lewat telepon, jadi kita bisa sama-sama terus seharian. Thanks to technology. Tapi tetep..., proyek tidak bisa dilewatkan, maklum mata pencaharian :-). Setelah selesai urusan STNK, kami harus menemui calon klien yang kebetulan temenku SMA. Dia dan suaminya bertugas di Afrika dan rumahnya yang di Jakarta mau direnovasi. Nah, jadilah kami menemui dia, yang cuma punya waktu pendek di Jakarta buat bicarain kemungkinan-kemungkinan perluasan ruangan dan perbaikan genteng, sambil cerita-cerita pengalamannya di Kenya yang seru banget.
Alhasil, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, dan suamiku ingin jemput anakku yang selesai kuliahnya jam 13.00, so kita bisa sama-sama bertiga having lunch sambil ngerayain wedding anniversary.... Duh, ngerayain wedding anniversary kok ga serius ya... Akhirnya jadi juga kita makan di Sky Dinning Plaza Semanggi, itu lho di terace cafe lantai 9 Plaza Semanggi... enak tempatnya outdoor sambil liat-liat pemandangan Jakarta dengan cuaca yang mendung-mendung dingin, seperti di Eropa... ha..ha.., lumayan romantislah. Kita makan di Radja Ketjil, restoran yang menyediakan makanan cina peranakan, mmm yummy...
Habis makan anakku mampir beli stationary di Gramedia, dan aku nemu bukunya Budiman Hakim, seorang copy writer yang sebelumnya ga pernah kukenal (maklum, aku kan bukan org periklanan) yang menulis tentang hal-hal sepele di sekitarnya, dan ternyata tulisannya seru, enak dibaca dan bikin aku senyum-senyum sendiri. Buku itu juga yang menginspirasiku buat nginget-nginget segala kejadian yang kualami yang selama ini luput dari perhatianku... Tiba-tiba aku jadi ingin menulis lagi di blog ini. Mungkin cuma ha-hal sepele, tapi tiba-tiba di kepala kok jadi muncul jadi ide-ide yang kalo ditulis dan dibaca lagi bisa jadi penghibur hati.
Malam itu, aku bersyukur bahwa aku telah melewatkan 1 hari yang berharga bersama suami dan buah hatiku tercinta, merayakan kebersamaan kami yang telah 20 tahun ditambah masa pacaran 6 tahun.... Tidak ada pesta-pesta, tapi terasa sangat pribadi. Thanks to my husband for being there for more than two decades in good and bad time. Much Luv.
Langganan:
Postingan (Atom)