Selasa, 24 April 2012

Lembar yang hilang

Geletar halus menyelusup perlahan
Membawa kembali ruang dan waktu dari masa silam
Menyentak relung hati terdalam yang tertidur lama
Menyeruak, mendesak ke permukaan 
Mengalirkan denyar-denyar hangat menembus pori
Mengantar bilur-bilur rindu yang tak terperi

Nafas tercekat tak mampu ucapkan kata
Hanya binar indah kedua bola mata
Hanya semu merah jambu menghias pipi pualamnya
Pancarkan rasa hati yang membuncah berseri

Belahan jiwa jangan pernah pergi lagi....

Jakarta, April 2012




Selasa, 03 April 2012

Menembus Hujan membelah lautan

Sudah beberapa hari ini setiap sore waktu pulang kantor Jakarta dilanda Hujan yang volumenya luar biasa besar, bahkan kadang disertai angin yang sanggup merubuhkan pohon bak badai yang mengerikan. Dan bagai pasangan yang terpisahkan, biasanya sang Hujan tidak datang sendiri, selalu disertai genangan-genangan air yang cukup tinggi alias banjir.... Akibat lanjutannya? Ya parkir akbar deh...

Sore ini status semua orang di FB, Twitter, BB, dan semua jejaring sosial yang sudah jadi bagian hidup orang Jakarta... apa lagi kalau bukan tentang Hujan dan Banjir. Ada yang mengeluhkan jarak tempuh Rasuna Said- Pondok Indah yang dalam kondisi normal paling lama 1 jam, sore ini jadi 3 jam.. pemborosan umur..

Untungnya sore ini saya tidak sampai ikutan ngantri di jalan, walaupun saya terpaksa menerjang tirai hujan yang lebat bak langit yang tumpah (ini tweetnya Najwa Shihab), dan oopss... ketemu juga tuh sang banjir.. Petukangan memang langganan banjir, tapi perkiraan saya seharusnya belum sampai tergenang setinggi betis orang dewasa, karena ketika saya memulai perjalan pulang hujan baru mau mulai menetes satu-satu walau langit sudah gelap.. Jadi perhitungan saya, ketika saya tiba di Pertukangan masih belum sempat banjir.. Eh ternyata ramalan saya totally wrong this time... Untungnya mobil saya lumayan tinggi.. jadi dengan mengucap bismillah dan berkonsentrasi penuh sambil zikir menyebut nama Allah, perlahan saya memasuki arena genangan dan air terbelah ke kiri dan kanan.. Wuiiihhh... jadi teringat Nabi Musa yang membelah lautan... hehehe lebai..
Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke seberang.. padahal areal laut lumayan panjang lho... pas di tengah-tengah rasanya seperti ga sampai-sampai ke tempat kering...

Seperti juga umat masa kini, tak lupa update status dong... "Nyeberang Laut di Petukangan, kaya Nabi Musa"... hehehe... Hasilnya, banyak komen yang masuk... antara lain ada yang mengkhawatirkan isterinya yang harus naik angkot pulang ke Petukangan, ada yang komen tentang pemasangan sirip di mobil (ikan kalee??), ada yang ngetawain... katanya resiko naik mobil (klo naik motor ya pasti neduh..), ada yang bersimpati dengan berpesan agar berhati-hati.. senang punya banyak teman yang selalu memperhatikan.. Padahal harusnya ya ga bolehlah nyetir sambil update status hihihi...

Tapi ternyata jalanan ga macet lho kalo kita nekat nerjang hujan gitu.. karena orang lebih banyak menunggu sampai hujan reda baru berani jalan.. terutama pengendara motor..  Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat, dan cepat...

Saat ini, hujan sebentar saja, Jakarta kacau... banjir di mana-mana, macet di mana-mana, pemborosan bbm, waktu, tenaga, pikiran... kalau dirupiahkan? kalkulatornya ga cukup deh kayanya.. Sistem perkotaan Jakarta memang sudah berantakan... tidak ada ruang terbuka hijau, kurangnya daerah resapan air, tidak ada sistem transportasi umum yang memadai, terlalu banyak kendaraan bermotor roda dua dan mobil pribadi, tingkat polusi udara tinggi, konsumsi bbm tinggi, kualitas hidup penduduknya rendah..  Semoga gubernur yang baru nanti bisa menata jakarta menjadi lebih manusiawi..

Senin, 02 April 2012

Menikmati Kepadatan Lalu Lintas

Hujan, tepat jam pulang kantor, adalah waktu yang sangat salah untuk nekat pulang. Karena pasti akan terjebak macet di perjalanan di ruas jalan Jakarta yang padat. Sampai muncul berbagai istilah untuk menggambarkan bagaimana kondisi lalu lintas pada waktu-waktu tersebut, antara lain: Parkir Akbar,  Matot untuk keadaan Macet Total; Pamer Paha adalah akronim untuk Padat Merayap Tanpa Harapan, atau Pamer Paha di ranjang yang artinya: Padat Merayap dalam antrian panjang.... hehehe.. kreatif banget.

Black Berry dan Radio menjadi teman perjalanan yang lumayan menghibur dalam keadaan seperti di atas, asal jangan low bat dan kebelet pipis.. hihihi.. itu namanya sengsara tak berujung.

Bosen bbman ada satu lagi yang lumayan menghibur, mengamati keadaan sekeliling.. memperhatikan para pejuang kehidupan yang sejak pagi telah berlomba antri memnuhi ruas-ruas jalan Jakarta mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian yang tak pernah didapat :-( Mereka adalah pengendara mobil, pengendara motor, Metromini dan keneknya....

Dari semua pejuang yang paling menyebalkan adalah kenek Metromini atau Kopaja. Kalau Supirnya sih emang udah terkenal nyebelin kan. Sedangkan si Kenek di tengah2 kemacetan biasanya maksa nyari jalan buat metromininya, lalu dia akan ketok-ketok kaca mobil kita sambil kasih-kasih kode pake tangannya supaya kita maju, biarpun cuma setengah centi... Heran deh, padahal udah tau depannya juga udah rapet banget, dan nggak akan ada pengaruh juga kalau kita maju mengingat badan metromini yang besar dan biasanya butut itu sulit untuk menyelip di antara mobil-mobil yang berderet rapat. Kalau sudah demikian saya paling senang bikin si kenek kesal juga hahaha.. tinggal geleng-geleng kepala sambil nunjuk-nunjuk ke depan maksudnya kasih tau bahwa ga mungkin maju, lalu pura-pura sibuk bbman... hehehe.. puas deh rasanya. Belum cukup gitu, kalo ada ruang sedikit saja, langsung sang kenek pasang badan di depan mobil kita dan membiarkan sang Metromoni memotong jalur seenak perutnya sambil menekan-nekan pedal gas mengeluarkan suara menggerung-gerung, seolah raja jalanan. Mobil-mobil lain terpaksa memberi jalan daripada kesenggol body butut metromini, bisa lecet tak terobati tuhh..

Lain lagi dengan pengendara motor yang sekarang jumlahnya seperti pasukan semut. Karena badannya yang kecil mereka seperti butir-butir pasir dalam Jambangan Gelas berisi bongkahan batu, mudah menyusup mengisi celah dan ruang kosong di antara batu-batu tersebut. Tak perduli apakah mengganggu pengguna jalan lain, menyenggol kaca spion mobil lain sampai sengkleh.. Jangankan berhenti minta maaf, langsung ngeloyor atau paling melambaikan tangan... Yang terpikir hanya kepentingan diri sendiri.
Sepertinya itulah cermin sikap dan perilaku bangsa ini, egois, selfish, tidak perduli..

Semoga Pemimpin yang baru nanti lebih peka dan bisa membawa bangsa ini kembali kepada sikap-sikap luhur yang sejak dulu telah diajarkan nenek moyang kita dan sekarang dilupakan... Selalu berharap untuk yang lebih baik...