Sudah beberapa hari ini setiap sore waktu pulang kantor Jakarta dilanda Hujan yang volumenya luar biasa besar, bahkan kadang disertai angin yang sanggup merubuhkan pohon bak badai yang mengerikan. Dan bagai pasangan yang terpisahkan, biasanya sang Hujan tidak datang sendiri, selalu disertai genangan-genangan air yang cukup tinggi alias banjir.... Akibat lanjutannya? Ya parkir akbar deh...
Sore ini status semua orang di FB, Twitter, BB, dan semua jejaring sosial yang sudah jadi bagian hidup orang Jakarta... apa lagi kalau bukan tentang Hujan dan Banjir. Ada yang mengeluhkan jarak tempuh Rasuna Said- Pondok Indah yang dalam kondisi normal paling lama 1 jam, sore ini jadi 3 jam.. pemborosan umur..
Untungnya sore ini saya tidak sampai ikutan ngantri di jalan, walaupun saya terpaksa menerjang tirai hujan yang lebat bak langit yang tumpah (ini tweetnya Najwa Shihab), dan oopss... ketemu juga tuh sang banjir.. Petukangan memang langganan banjir, tapi perkiraan saya seharusnya belum sampai tergenang setinggi betis orang dewasa, karena ketika saya memulai perjalan pulang hujan baru mau mulai menetes satu-satu walau langit sudah gelap.. Jadi perhitungan saya, ketika saya tiba di Pertukangan masih belum sempat banjir.. Eh ternyata ramalan saya totally wrong this time... Untungnya mobil saya lumayan tinggi.. jadi dengan mengucap bismillah dan berkonsentrasi penuh sambil zikir menyebut nama Allah, perlahan saya memasuki arena genangan dan air terbelah ke kiri dan kanan.. Wuiiihhh... jadi teringat Nabi Musa yang membelah lautan... hehehe lebai..
Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke seberang.. padahal areal laut lumayan panjang lho... pas di tengah-tengah rasanya seperti ga sampai-sampai ke tempat kering...
Seperti juga umat masa kini, tak lupa update status dong... "Nyeberang Laut di Petukangan, kaya Nabi Musa"... hehehe... Hasilnya, banyak komen yang masuk... antara lain ada yang mengkhawatirkan isterinya yang harus naik angkot pulang ke Petukangan, ada yang komen tentang pemasangan sirip di mobil (ikan kalee??), ada yang ngetawain... katanya resiko naik mobil (klo naik motor ya pasti neduh..), ada yang bersimpati dengan berpesan agar berhati-hati.. senang punya banyak teman yang selalu memperhatikan.. Padahal harusnya ya ga bolehlah nyetir sambil update status hihihi...
Tapi ternyata jalanan ga macet lho kalo kita nekat nerjang hujan gitu.. karena orang lebih banyak menunggu sampai hujan reda baru berani jalan.. terutama pengendara motor.. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat, dan cepat...
Saat ini, hujan sebentar saja, Jakarta kacau... banjir di mana-mana, macet di mana-mana, pemborosan bbm, waktu, tenaga, pikiran... kalau dirupiahkan? kalkulatornya ga cukup deh kayanya.. Sistem perkotaan Jakarta memang sudah berantakan... tidak ada ruang terbuka hijau, kurangnya daerah resapan air, tidak ada sistem transportasi umum yang memadai, terlalu banyak kendaraan bermotor roda dua dan mobil pribadi, tingkat polusi udara tinggi, konsumsi bbm tinggi, kualitas hidup penduduknya rendah.. Semoga gubernur yang baru nanti bisa menata jakarta menjadi lebih manusiawi..