Setiap hari selalu ada saja yang dapat kita petik sebagai pelajaran, sebagai bahan renungan dalam menyikapi hidup dari kejadian di sekitar kita sehari-hari. Ada orang-orang yang selalu melihat masalah-masalah sebagai suatu tantangan untuk diselesaikan, dan merasakan stimulasi yang menggairahkan ketika dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tetapi ada juga orang-orang yang selalu menganggap masalah-masalah menjadi beban tambahan yang harus diukur dengan nilai tambah yang diperoleh bila harus menanggung beban tersebut. Bahkan ada juga yang menganggap beban tugas yang melekat dalam job desc nya sebagai bukan tugasnya... Orang memang suka aneh-aneh... atau mungkin saya yang aneh???
Kejadian hari ini membuat saya tersenyum, sambil setengah gondok. Tugas saya antara lain mengatur penerbitan ijazah dan transkrip di sebuah Perguruan Tinggi tempat saya bekerja. Sudah menjadi keputusan rektor bahwa kami menerbitkan transkrip dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Hal ini sudah berjalan beberapa tahun tanpa masalah. Tentunya semua data mata kuliah baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris diperoleh dari masing-masing Program Studi. Minggu lalu kami mendapat koreksi dari seorang dekan baru bahwa ternyata terdapat kesalahan penulisan mata kuliah dalam bahasa Inggris. (berarti dekan yang lama tidak seteliti dekan baru ini, karena sebelumnya tidak pernah ada keluhan). Menanggapi keluhan tersebut, akhirnya saya mengirim seluruh data mata kuliah yang ada kepada program studi untuk dicek kembali supaya dapat diperbaiki dalam Sistem Informasi Akademik kami. Tahap pertama berjalan dengan lancar. Tapi ternyata permasalahan belum selesai secara tuntas, karena masih ada mata kuliah konversi yang juga harus dicek ulang karena sumber datanya berbeda dari yang sebelumnya. Dengan pedenya saya menghadap dekan untuk menyampaikan permasalahan baru ini dengan maksud meminta bantuan fakultas dan program studi untuk mengecek ulang, karena saya pikir dekan ini orang yang peduli dan cukup kritis. Tapi saya terkejut dengan tanggapan beliau, karena mempertanyakan status tugas tersebut. Beliau menganggap itu bukan tugas yang melekat pada job desc Kepala Program Studinya, tetapi merupakan pekerjaan tambahan yang harus diberi insentif tambahan... Aduh... bagaimana ini?? Kalau saja bisa saya kerjakan sendiri pasti sudah selesai, masalahnya ini kan wewenang siapa? Saya kan hanya juru catat, tanggung jawab isi kan mereka? Tujuan saya hanya memberikan pelayanan terbaik dan tepat waktu kepada pelanggan yang dalam hal ini adalah para lulusan. Lucunya mereka menganggap itu adalah tugas saya yang tidak terkait langsung dengan mereka.
Saya jadi bingung, kita berada dalam satu institusi yang seharusnya bersama-sama memberikan pelayanan prima baik dari segi mutu, kecepatan dan ketepatan layanan kok dipecah-pecah menjadi itu tugasmu bukan tugasku???
Pelajaran yang saya dapat hari ini, harus bersabar, karena tidak semua orang punya pikiran yang sama dengan kita. Kesal? boleh dong, soalnya saya khawatir tidak dapat memberikan pelayanan prima kepada alumni.... Jalan keluar? tetap dijalankan semaksimal mungkin, karena mereka tidak menolak 100%, tapi menyampaikan kepada atasan tentang masalah ini, siapa tau atasan memikirkan kembali pemberian insentif tambahan atau malah memberi teguran? walahualam... Tetap semangat, tetap berusaha.... do my best..