Selasa, 08 Mei 2012

Learning how to live through life

Pernahkah kita bertanya untuk apa kita hidup? Mengapa kita hidup? Bagaimana caranya berkehidupan?

Sungguh banyak pertanyaan dan sungguh banyak pula jawaban, dan sungguh sulit mendapatkan jawaban yang tepat....
Setelah menjalani hidup yang panjang, bagi saya hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan pembelajaran. Namun sebuah tanya masih terus mencari jawab... Perjalanan menuju ke mana? 

Begitu banyak orang tak tahu ke mana harus melangkah, karena tak tau tujuan akhir dari perjalanan hidupnya. Kemudian bermunculanlah para motivator yang merasa sudah menemukan jalannya, sudah mengetahui apa yang dituju dalam hidupnya, menjual 'ilmu' katanya berdasarkan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman hidupnya.... Tetapi semua hanya berujung bagaimana mencapai tujuan menjadi 'KAYA', seolah 'KAYA' identik dengan 'SUKSES'...... meskipun dalam ilmunya para motivator tetap mengatakan bahwa SUKSES bagi setiap orang memiliki ukuran yang berbeda... jadi tidak harus selalu 'KAYA'... tetapi saya yakin hampir sebagian besar peserta pelatihan yang dipandu oleh para motivator tersebut berharap dapat mengikuti jejak mereka menjadi 'KAYA' dan 'TERKENAL'... Tetapi tentu tidak semudah membalik telapak tangan, karena kita berbeda satu sama lainnya..

Dulu, waktu saya kecil saya pikir Tuhan menciptakan manusia seperti menciptakan permainan, manusia menjadi boneka-bonekanya yang dilengkapi dengan rumah-rumahan dan mobil-mobilan... (Ampuni hamba atas kebodohan ini ya Allah).... Setelah dewasa dan mendapatkan pelajaran agama yang dulu diajarkan dengan memahami 'pahala' dan 'dosa' tanpa mengerti benar maknanya.. (bahkan sampai sekarangpun masih terus belajar tentang hal-hal tersebut), saya jadi tidak berani lagi mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan alam semesta... bumi dan segala isinya... Karena saya yakin Tuhan hanya memberi tugas bagi manusia yang harus dilaksanakan menurut SOP yang ada di dalam Kitab Suci Al Qur'an (karena saya penganut Islam). Sayangnya Tuhan tidak pernah menyatakan secara explisit peran apa yang harus kita lakukan dalam menjalankan tugas-tugas Allah di dunia ini, kita hanya diberi akal dan pikiran serta buku panduan yaitu Al-Qur'an. Jadi kita harus mencarinya sendiri... belajar sendiri sepanjang kehidupan itu sendiri.

Hidup adalah perjalanan menuju 'ridho'Nya.... Saya kemudian rindu untuk menjadi bermanfaat bagi sesama..., nampaknya itulah akhir dari perjalanan hidup saya, tempat di mana saya akan menuju... akhirnya saya mengenali kemana kaki harus melangkah... Semoga ini memang arah yang benar, tujuan yang tepat.

Belajar sepanjang perjalanan hidup... karena kita harus berjalan untuk mencapai akhir perjalanan.. Perjalanan hidup tidak pernah lurus, kadang berkelok, kadang menanjak, menurun, terjerembab, lambat, cepat, berkerikil, penuh sandungan, kadang sulit, kadang mudah.... Itulah saat di mana kita selalu belajar. Kita belajar menghadapi semua halangan dan rintangan, belajar bagaimana berbelok dan menanjak... Belajar menggunakan akal, pikiran dan sanubari. Kepekaan terhadap kata hati memberikan keseimbangan dalam menjalani hidup. Semuanya membuat kita menjadi lebih pandai, lebih matang, lebih bijaksana, lebih mengerti bagaimana menjalani kehidupan, memahami hakikat kehidupan itu sendiri... Bahkan menemukan arti kehidupan bagi diri sendiri, bagi lingkungan kita dan bagi orang-orang di sekililing kita... Insyaallah..


Selasa, 24 April 2012

Lembar yang hilang

Geletar halus menyelusup perlahan
Membawa kembali ruang dan waktu dari masa silam
Menyentak relung hati terdalam yang tertidur lama
Menyeruak, mendesak ke permukaan 
Mengalirkan denyar-denyar hangat menembus pori
Mengantar bilur-bilur rindu yang tak terperi

Nafas tercekat tak mampu ucapkan kata
Hanya binar indah kedua bola mata
Hanya semu merah jambu menghias pipi pualamnya
Pancarkan rasa hati yang membuncah berseri

Belahan jiwa jangan pernah pergi lagi....

Jakarta, April 2012




Selasa, 03 April 2012

Menembus Hujan membelah lautan

Sudah beberapa hari ini setiap sore waktu pulang kantor Jakarta dilanda Hujan yang volumenya luar biasa besar, bahkan kadang disertai angin yang sanggup merubuhkan pohon bak badai yang mengerikan. Dan bagai pasangan yang terpisahkan, biasanya sang Hujan tidak datang sendiri, selalu disertai genangan-genangan air yang cukup tinggi alias banjir.... Akibat lanjutannya? Ya parkir akbar deh...

Sore ini status semua orang di FB, Twitter, BB, dan semua jejaring sosial yang sudah jadi bagian hidup orang Jakarta... apa lagi kalau bukan tentang Hujan dan Banjir. Ada yang mengeluhkan jarak tempuh Rasuna Said- Pondok Indah yang dalam kondisi normal paling lama 1 jam, sore ini jadi 3 jam.. pemborosan umur..

Untungnya sore ini saya tidak sampai ikutan ngantri di jalan, walaupun saya terpaksa menerjang tirai hujan yang lebat bak langit yang tumpah (ini tweetnya Najwa Shihab), dan oopss... ketemu juga tuh sang banjir.. Petukangan memang langganan banjir, tapi perkiraan saya seharusnya belum sampai tergenang setinggi betis orang dewasa, karena ketika saya memulai perjalan pulang hujan baru mau mulai menetes satu-satu walau langit sudah gelap.. Jadi perhitungan saya, ketika saya tiba di Pertukangan masih belum sempat banjir.. Eh ternyata ramalan saya totally wrong this time... Untungnya mobil saya lumayan tinggi.. jadi dengan mengucap bismillah dan berkonsentrasi penuh sambil zikir menyebut nama Allah, perlahan saya memasuki arena genangan dan air terbelah ke kiri dan kanan.. Wuiiihhh... jadi teringat Nabi Musa yang membelah lautan... hehehe lebai..
Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke seberang.. padahal areal laut lumayan panjang lho... pas di tengah-tengah rasanya seperti ga sampai-sampai ke tempat kering...

Seperti juga umat masa kini, tak lupa update status dong... "Nyeberang Laut di Petukangan, kaya Nabi Musa"... hehehe... Hasilnya, banyak komen yang masuk... antara lain ada yang mengkhawatirkan isterinya yang harus naik angkot pulang ke Petukangan, ada yang komen tentang pemasangan sirip di mobil (ikan kalee??), ada yang ngetawain... katanya resiko naik mobil (klo naik motor ya pasti neduh..), ada yang bersimpati dengan berpesan agar berhati-hati.. senang punya banyak teman yang selalu memperhatikan.. Padahal harusnya ya ga bolehlah nyetir sambil update status hihihi...

Tapi ternyata jalanan ga macet lho kalo kita nekat nerjang hujan gitu.. karena orang lebih banyak menunggu sampai hujan reda baru berani jalan.. terutama pengendara motor..  Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat, dan cepat...

Saat ini, hujan sebentar saja, Jakarta kacau... banjir di mana-mana, macet di mana-mana, pemborosan bbm, waktu, tenaga, pikiran... kalau dirupiahkan? kalkulatornya ga cukup deh kayanya.. Sistem perkotaan Jakarta memang sudah berantakan... tidak ada ruang terbuka hijau, kurangnya daerah resapan air, tidak ada sistem transportasi umum yang memadai, terlalu banyak kendaraan bermotor roda dua dan mobil pribadi, tingkat polusi udara tinggi, konsumsi bbm tinggi, kualitas hidup penduduknya rendah..  Semoga gubernur yang baru nanti bisa menata jakarta menjadi lebih manusiawi..

Senin, 02 April 2012

Menikmati Kepadatan Lalu Lintas

Hujan, tepat jam pulang kantor, adalah waktu yang sangat salah untuk nekat pulang. Karena pasti akan terjebak macet di perjalanan di ruas jalan Jakarta yang padat. Sampai muncul berbagai istilah untuk menggambarkan bagaimana kondisi lalu lintas pada waktu-waktu tersebut, antara lain: Parkir Akbar,  Matot untuk keadaan Macet Total; Pamer Paha adalah akronim untuk Padat Merayap Tanpa Harapan, atau Pamer Paha di ranjang yang artinya: Padat Merayap dalam antrian panjang.... hehehe.. kreatif banget.

Black Berry dan Radio menjadi teman perjalanan yang lumayan menghibur dalam keadaan seperti di atas, asal jangan low bat dan kebelet pipis.. hihihi.. itu namanya sengsara tak berujung.

Bosen bbman ada satu lagi yang lumayan menghibur, mengamati keadaan sekeliling.. memperhatikan para pejuang kehidupan yang sejak pagi telah berlomba antri memnuhi ruas-ruas jalan Jakarta mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian yang tak pernah didapat :-( Mereka adalah pengendara mobil, pengendara motor, Metromini dan keneknya....

Dari semua pejuang yang paling menyebalkan adalah kenek Metromini atau Kopaja. Kalau Supirnya sih emang udah terkenal nyebelin kan. Sedangkan si Kenek di tengah2 kemacetan biasanya maksa nyari jalan buat metromininya, lalu dia akan ketok-ketok kaca mobil kita sambil kasih-kasih kode pake tangannya supaya kita maju, biarpun cuma setengah centi... Heran deh, padahal udah tau depannya juga udah rapet banget, dan nggak akan ada pengaruh juga kalau kita maju mengingat badan metromini yang besar dan biasanya butut itu sulit untuk menyelip di antara mobil-mobil yang berderet rapat. Kalau sudah demikian saya paling senang bikin si kenek kesal juga hahaha.. tinggal geleng-geleng kepala sambil nunjuk-nunjuk ke depan maksudnya kasih tau bahwa ga mungkin maju, lalu pura-pura sibuk bbman... hehehe.. puas deh rasanya. Belum cukup gitu, kalo ada ruang sedikit saja, langsung sang kenek pasang badan di depan mobil kita dan membiarkan sang Metromoni memotong jalur seenak perutnya sambil menekan-nekan pedal gas mengeluarkan suara menggerung-gerung, seolah raja jalanan. Mobil-mobil lain terpaksa memberi jalan daripada kesenggol body butut metromini, bisa lecet tak terobati tuhh..

Lain lagi dengan pengendara motor yang sekarang jumlahnya seperti pasukan semut. Karena badannya yang kecil mereka seperti butir-butir pasir dalam Jambangan Gelas berisi bongkahan batu, mudah menyusup mengisi celah dan ruang kosong di antara batu-batu tersebut. Tak perduli apakah mengganggu pengguna jalan lain, menyenggol kaca spion mobil lain sampai sengkleh.. Jangankan berhenti minta maaf, langsung ngeloyor atau paling melambaikan tangan... Yang terpikir hanya kepentingan diri sendiri.
Sepertinya itulah cermin sikap dan perilaku bangsa ini, egois, selfish, tidak perduli..

Semoga Pemimpin yang baru nanti lebih peka dan bisa membawa bangsa ini kembali kepada sikap-sikap luhur yang sejak dulu telah diajarkan nenek moyang kita dan sekarang dilupakan... Selalu berharap untuk yang lebih baik...


Kamis, 22 Maret 2012

Memaknai Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi yang sekarang resmi menjadi Hari Besar Nasional disambut gembira oleh semua kalangan, terlebih karena tanggalan merah tahun ini jatuh pada hari Jum'at, 23 Maret 2012, yang berarti libur panjang akhir pekan (long weekend) bagi masyarakat non Hindu. Tapi apa sebenarnya makna Hari Raya Nyepi bagi masyarakat Hindu? Hari Raya Nyepi adalah Hari pertama Tahun Baru Saka. Berbeda dengan masyarakat umum yang menganut Tahun Masehi, di mana setiap pergantian tahun dirayakan dengan pesta pora yang gegap gempita, Hari Raya Nyepi justru dirayakan dengan 'Sepi' atau 'Senyap'.

Pada hari itu suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari itu umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa (ketahanan menderita),brata (pengekangan hawa nafsu),yoga (menghubungkan jiwa dengan Tuhan) dan semadhi (manunggal kepada Tuhan). Ini adalah waktunya berkontemplasi. Sesuai kepercayaan Hindu di mana manusia harus mewujudkan Tujuan Hidupnya yaitu Kesejahteraan dan kesucian Lahir Bathin.

3 atau 2 hari sebelumnya telah pula diadakan upacara-upacara pendahuluan seperti Melasti, Tawur (pencaruan) dan Pengrupukan. Melasti adalah mensucikan alam, dengan cara mengarak sarana persembahyangan ke laut atau sumber air lainnya (sebagai sumber Air Suci/Tirta Amerta). Kemudian dilanjutkan dengan uapacar Tawur/Mecaru yaitu semacam persembahan/sesaji dengan maksud pensucian Buta Kala, agar lepas semua kekotoran dalam diri manusia. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara Pengrupukan yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tujuannya adalah mengusir Buta Kala agar tidak mengganggu lingkungan rumah.

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.
(disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi).

Apabila kita menyimak filosofi dari perayaan Hari Raya Nyepi, rasanya hampir mirip dengan apa yang dilakukan umat muslim pada saat Ramadhan dan Idul Fitri. Ramadhan adalah waktu berkontemplasi bagi umat Muslim, selama satu bulan penuh, mensucikan diri lahir dan bathin, berpuasa, beribadah, i'tikaf, mendekatkan diri kepada sang Pencipta, Penguasa Alam Semesta. Idul Fitri waktunya kita bersilaturahmi dengan sesama, tetangga, kerabat, handai taulan, berma'af-ma'afan, kembali ke 'jiwa' yang suci (fitri).

Namun masih banyak juga yang memaknainya sebagai suatu ritual yang tidak dilaksanakan dengan hati, sehingga pada waktu puasa yang lebih dipentingkan adalah waktunya 'sahur' dan 'berbuka' yang hanya merupakan kepentingan 'lahir'... belum mencakup 'bathin'. Pada waktu Idul Fitri yang dipentingkan pakaian baru dan makanan berlimpah... lagi-lagi untuk 'lahir'... Mari bersama kita renungkan, apa yang Allah tugaskan kepada kita ketika nafas kita ditiupkan dan diturunkannya kita ke dunia ini. Sudahkah kita menjalankan amanahnya? Semoga kita termasuk orang-orang yang selamat, amanah dan barokah...

Rabu, 21 Maret 2012

Selamat Datang Pagi

Selarik sinar kuning keemasan
Menggurat langit Subuh nan kelam
Pagi yang dingin menghangat perlahan
Kilau mentari menyeruak mengganti gelap malam

Sekeping bulan pucat memudar perlahan
Tak kuasa menentang langit benderang
Seakan enggan pergi beranjak

Pergilah bulan
Waktumu kembali ke peraduan
Mentari yang hangat memulai tugasnya pagi ini
Mengawali dimulainya hari

Selamat datang pagi