Hari Raya Nyepi yang sekarang resmi menjadi Hari Besar Nasional disambut gembira oleh semua kalangan, terlebih karena tanggalan merah tahun ini jatuh pada hari Jum'at, 23 Maret 2012, yang berarti libur panjang akhir pekan (long weekend) bagi masyarakat non Hindu. Tapi apa sebenarnya makna Hari Raya Nyepi bagi masyarakat Hindu? Hari Raya Nyepi adalah Hari pertama Tahun Baru Saka. Berbeda dengan masyarakat umum yang menganut Tahun Masehi, di mana setiap pergantian tahun dirayakan dengan pesta pora yang gegap gempita, Hari Raya Nyepi justru dirayakan dengan 'Sepi' atau 'Senyap'.
Pada hari itu suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari itu umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa (ketahanan menderita),brata (pengekangan hawa nafsu),yoga (menghubungkan jiwa dengan Tuhan) dan semadhi (manunggal kepada Tuhan). Ini adalah waktunya berkontemplasi. Sesuai kepercayaan Hindu di mana manusia harus mewujudkan Tujuan Hidupnya yaitu Kesejahteraan dan kesucian Lahir Bathin.
3 atau 2 hari sebelumnya telah pula diadakan upacara-upacara pendahuluan seperti Melasti, Tawur (pencaruan) dan Pengrupukan. Melasti adalah mensucikan alam, dengan cara mengarak sarana persembahyangan ke laut atau sumber air lainnya (sebagai sumber Air Suci/Tirta Amerta). Kemudian dilanjutkan dengan uapacar Tawur/Mecaru yaitu semacam persembahan/sesaji dengan maksud pensucian Buta Kala, agar lepas semua kekotoran dalam diri manusia. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara Pengrupukan yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tujuannya adalah mengusir Buta Kala agar tidak mengganggu lingkungan rumah.
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.
(disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi).
Apabila kita menyimak filosofi dari perayaan Hari Raya Nyepi, rasanya hampir mirip dengan apa yang dilakukan umat muslim pada saat Ramadhan dan Idul Fitri. Ramadhan adalah waktu berkontemplasi bagi umat Muslim, selama satu bulan penuh, mensucikan diri lahir dan bathin, berpuasa, beribadah, i'tikaf, mendekatkan diri kepada sang Pencipta, Penguasa Alam Semesta. Idul Fitri waktunya kita bersilaturahmi dengan sesama, tetangga, kerabat, handai taulan, berma'af-ma'afan, kembali ke 'jiwa' yang suci (fitri).
Namun masih banyak juga yang memaknainya sebagai suatu ritual yang tidak dilaksanakan dengan hati, sehingga pada waktu puasa yang lebih dipentingkan adalah waktunya 'sahur' dan 'berbuka' yang hanya merupakan kepentingan 'lahir'... belum mencakup 'bathin'. Pada waktu Idul Fitri yang dipentingkan pakaian baru dan makanan berlimpah... lagi-lagi untuk 'lahir'... Mari bersama kita renungkan, apa yang Allah tugaskan kepada kita ketika nafas kita ditiupkan dan diturunkannya kita ke dunia ini. Sudahkah kita menjalankan amanahnya? Semoga kita termasuk orang-orang yang selamat, amanah dan barokah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar