Jumat, 06 Februari 2009

Ijazah

Jakarta, 4 Februari 2009.

Siang ini saya harus menghadap polres Bekasi bersama salah seorang teman mantan Dekan salah satu fakultas di Universitas tempat saya bekerja. Lho ada masalah apa ya? Ternyata Polres Bekasi telah menangkap seseorang yang berprofesi sebagai pembuat Ijazah dan Transkrip Palsu, dan salah satunya ada Ijazah keluaran Universitas kami. Kepala saya langsung cenut-cenut..., memang sih kami hanya sebagai saksi, dan teman saya itu dipanggil karena tanda tangan yang tertera di Ijazah Palsu itu atas namanya. Tapi kami belum melihat seperti apa Ijazah Palsu tersebut, wajarlah kalau kami merasa khawatir. Biasa, urusan sama Polisi di negara kita itu belum memberikan jaminan rasa aman bagi masyarakat. Kalau bisa sih sebaiknya sejauh mungkin kita berurusan sama polisi, atau aparat hukum di negeri ini. Selain itu kekhawatiran saya lebih kepada integritas PT kami, walaupun dari data yang kami peroleh tentang nama pengguna Ijazah memang tidak ada dalam database mahasiswa di PT kami. Jadi pagi-pagi saya sudah menyiapkan semua dokumen, contoh Ijazah dan transkrip asli yang kami terbitkan pada bulan dan tahun yang sama dengan yang tercantum dalam Ijazah Palsu tersebut, juga kutipan SK pemberhentian sebagai Dekan dari teman saya tadi. Sementara teman saya sudah menghubungi temannya yang polisi juga entah dari kesatuan mana buat jaga-jaga membantu kami kalau terjadi hal-hal yang kurang menguntungkan.

Tepat pukul 12.00, kami tiba di tempat tujuan, 1 jam lebih awal dari waktu yg ditentukan. Jadi kami masih punya waktu untuk makan siang dan sholat. Tepat jam 13.00 kami masuk ke ruang Bareskrim, menemui Aiptu Bambang SP, SH. Nah, baru deh kami bisa liat bentuk Ijazah dan Transkrip Palsu tersebut. Rupanya pembuatan Ijazah dan Transkrip Palsu memanfaatkan Teknologi Multimedia yang sekarang sudah sangat canggih, menggunakan scanner dan software multimedia, seperti photshop/corel dll. Hebat banget orang Indonesia ya, pinter-pinter tapi keblinger. Ketahuan Palsunya gimana? Blanko Ijazah masih menggunakan Blanko lama, logo lama (sekarang kami menggunakan logo baru), bahkan ada stempel embosenya segala. Kemudian tanggal pengeluaran tidak sesuai dengan tanggal pengeluaran yg sebenarnya. Dekan yang menandatangani adalah Dekan yang sudah tidak menjabat pada tanggal tersebut. Tanda Tangan Rektor jelas-jelas berbeda dengan aselinya. Ternyata selain Ijazah dari Universitas lain juga banyak yg dipalsu, bahkan Ijazah SMU yang dikeluarkan Diknas pun dipalsu, termasuk Ijazah Paket C.... masyaallah... Hebat banget tuh orang. Biayanya? 1 lembar Ijazah dan 1 lembar transkrip hanya Rp. 400.000,-. Hehehe... ga usah repot-repot dan mahal-mahal sekolah.... hanya dengan Rp400.000,- sudah jadi Sarjana.

Kenapa Fenomena ini sering terjadi ya? Terus terang ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan Polisi urusan Ijazah juga. Awalnya kantor saya menerima telepon mencari tahu tentang seseorang yang katanya lulusan Universitas kami tahun 90 an. Tidak mudah mencari data lulusan /alumni tahun segitu, karena pada waktu itu kami belum menggunakan Sistem Informasi yang On Line seperti sekarang, apalagi kalau tidak diketahui Nomor Induknya dengan jelas. Hari berikutnya datang seseorang yang mengaku dari salah satu partai yang sedang berlomba dalam pemilu mendatang menanyakan data orang yang sama. Ternyata ini masalah pencalonan Anggota Legislatif (Caleg), yang mana orang tersebut dicurigai memalsukan gelar akademik S1nya. Terpaksa kami mencari hard copy data-data lama yang masih tersimpan. Masalahnya data tersebut sudah tidak terlalu lengkap, kami sudah melakukan pemusnahan beberapa tahun lalu bagi data-data yang usianya sudah sangat tua. Untung masih ada 1 buku tanda terima ijazah yang memuat lulusan-lulusan tahun yang disebutkan tadi. Ternyata data orang yang dimaksud tidak dapat ditemukan. Saya mencoba menghubungi alumni-alumni seangkatan dengan orang yang dimaksud, untuk mengetahui apakah memang orang tersebut pernah menjadi mahasiswa di kampus ini. Ternyata memang ada nama tersebut, dan pada waktu itu masih ada sistem Ujian Negara. Kemungkinan orang tersebut belum lulus Ujian Negara sehingga Ijazah yang diterbitkan oleh Kopertis (Kordinator Perguruan tinggi Swasta) atas namanya tidak ada.

Esoknya datang seorang bapak-bapak yang mengaku sebagai orang tua dari 'caleg' tersebut membawa berkas Kutipan Surat Keterangan Rektor yang menjelaskan bahwa ybs sudah dinyatakan lulus sebagai Sarjana S1 lokal, dan masih harus menyelesaikan Ujian Negara sebagai syarat memperoleh Ijazah S1. Nah, inilah rupanya permasalahannya. Ujian negara memang tidak pernah ditempuh, sehingga ijazah memang tidak dimiliki.

Urusan ternyata masih panjang, karena seseorang mengadukan 'caleg' kita ini ke polisi dengan tuduhan memalsukan gelar Sarjana. Datang lagi panggilan Polisi untuk menjelaskan duduk perkaranya....., haduuuhhh ribet....

Ijazah di negeri ini rupanya sangat berperan dalam menentukan karir dan jalan hidup seseorang. Itu sebabnya banyak orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh selembar kertas yang dapat menjadi passport ke dunia yang lebih menjanjikan. Lha kalau Ijazahnya saja sudah diperoleh dengan cara-cara tidak jujur, ya pantaslah kalau negeri ini penuh dengan masalah-masalah yang sebenarnya bersumber pada kelemahan akhlak pemimpin, rakyat dan semua penghuninya... Walahualam.

Tapi tidak dapat dipungkiri, karena peran ijazah itu juga, maka program perkuliahan kelas karyawan kami sangat diminati. Eits.., jangan suudzon dulu..., walaupun demikian kami menjalankan praktek perkuliahan dengan serius, tidak bisa main-main. Kami melakukan pembenahan besar-besaran, mendisiplinkan dosen-dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran, karena sekali kami lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Selamat berjuang.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

keEp smile..
caYo