Senin, 08 Februari 2010

inkonsistensi

Tadi malam tiba-tiba sms saya berteriak ngagetin saya yang lagi asyik nonton tv. Heran siapa sih yang sms malem2 gini? Eh, ternyata dari rekan yang terlambat submit tugas kerjanya karena sudah overdue, dan minta-minta saya untuk mundurin deadline (kebetulan ini memang otoritas saya). Tapi kan bete.., kalo setiap deadline dilanggar, ngapain juga musti ada deadline. Saya pikir-pikir mau jawab apa ya sama rekan yang satu ini.. soalnya dia udah sering nih begini.., padahal konon beliau ini termasuk jajaran manusia-manusia taat menjalankan syariah agama. Saya jadi senyum-senyum sendiri dan batal menjawab, toh besok pagi juga ketemu karena dia bilang mau nemuin saya keesokan harinya.

Saya bingung deh sama orang-orang yang perilakunya seperti rekan tersebut. Asal tau aja, di lingkungan kerja saya yang beginian nggak cuma seorang, tapi banyak.. hehehe.. Orang-orang ini sangat menguasai ilmu agama, syariat, dan aturan-aturannya. Mereka juga tampak sangat beriman, ditandai dari dahinya yang menghitam tanda keseringan dan kelamaan sujud saat sholat, giginya yang sangat subur sampai-sampai akarnya menembus dagu (hehe, maksudnya membiarkan bulu-bulu di dagu tumbuh memanjang kliwir-kliwir). Mereka juga sangat pandai mensitir ayat-ayat Qur'an dalam dakwah yang disampaikan baik itu di mesjid secara resmi, maupun di forum komunikasi virtual, sangat fasih dalam menyampaikan ahlak Islami yang pastinya harus disiplin, jujur, kerja keras, dll. Begitu pula dalam rapat-rapat kerja, usul, ide, pendapatnya sangat menjanjikan, memukau dan santun. Tapi ketika berhadapan dengan aturan yang ditetapkan untuk menjaga keberlangsungan proses kerja, seringkali mereka tidak dapat memenuhinya, seperti rekan yang saya ceritakan di atas. Kalau menuntut hak, sangat keras memperjuangkannya, tetapi memenuhi kewajiban ntar dulu... Lho, kok ngga sama ya perilaku dengan ceramah dan dakwahnya?

Belum lagi masalah Polygami.. weleh-weleh.., mereka ini sangat setuju polygami, tapi udah pasti ga ada yang mau ngawinin isteri muda yang ngga muda lagi seperti nabi Muhammad saw. Lah, ngurus diri sendiri supaya konsisten, disiplin, jujur aja masih repot, kok malah mau nambah isteri dan anak-anak.. Barangkali ini juga yang menyebabkan orang-orang ini (mohon maaf) mata duitan.. hehehe..

Saya jadi mikir-mikir lagi.., pantes aja Islam sering dianggap sebagai agama yang penuh kekerasan. Ini kan gara-gara perilaku segelintir orang yang mengaku paling beriman, paling ahli Islam, tetapi justru yang dijalankan bukan yang damai-damai, tapi justru kekerasan, keserakahan, ketidakkonsistenan. Jadi ingat peribahasa yang pernah saya pelajari waktu SD dulu : karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Padahal kalau kita teliti kembali ajarannya justru amat sangat penuh kasih sayang, penuh aturan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup dengan damai. Bagaimana kita harus menjaga keseimbangan alam, dll.

Mohon maaf, tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan kelompok tertentu, tetapi saya hanya mengemukakan apa yang saya rasakan ketika berhadapan orang-orang seperti ini.

Tidak ada komentar: